● online
Padepokan Inti Semesta Jasa Spiritual Terbaik & Terpercaya
Mendadar Eksistensi Kalender Sunda Mencuat dalam Prasasti Sri Jayabupati di Cirebon
Mendadar Eksistensi Kalender Sunda
Mencuat dalam Prasasti Sri Jayabupati di Cirebon
Kalender adalah suatu sistem untuk membagi skala-skala waktu menjadi sistem periodik yang bermanfaat. Karena letak geografis yang ditinggali oleh manusia berbeda, maka setiap budaya yang ada di dunia memiliki perbedaan perhitungan kalender yang kemudian disebut dengan kalender kebudayaan.
Berangkat dari hal tersebut, maka kalender terdapat dua jenis yang pertama adalah kalender matahari (kalender surya) dan kemudian kalender bulan (kalender candra). Hal tersebut juga berpengaruh terhadap kalender yang digunakan oleh seluruh mesyarakat di dunia pada saat ini yang pada dasarnya menggunakan sistem perhitungan matahari dan bulan. Sebagian masyarakat dunia pada saat ini pada dasarnya menggunakan sistem kalender surya yaitu kalender masehi yang pada mulanya merupakan kalender kepercayaan banga Romawi. Selain kalender yang digunakan bangsa Romawi, adapula kalender berdasarkan perhitungan bulan yang digunakan oleh umat Muslim yaitu kalender Hijriah.
Kalender Sunda ‘Kalangider’ atau juga yang disebut Kala Sunda merupakan kalender kebudayaan yang dipercayai oleh masyarakat Sunda zaman dahulu. Bila dibandingkan dengan kalender pada umumnya kalender sunda memiliki keakuratan hingga 80.000 tahun. Nenek moyang Sunda memperhitungkannya berdasarkan hukum matris atau dalam bahasa Sunda disebut Biras. Mereka menghitung dengan cara melihat bayangan ‘kalangkang’ dari patok lingga (batu) yang tahan cuaca.
Dalam melihat waktu, orang Sunda zaman dahulu menetapkan dua perputaran waktu, yaitu perputaran bulan dan matahari. Kala Surya Sunda merupakan kalender Sunda yang perhitungannya berdasarkan peredaran matahari, kemudian Kala Candra Sunda yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan.
Kalender sunda biasanya digunakan untuk memperhitungkan kejadian alam seperti kapan terjadinya bulan purnama, gerhana matahari, bahkan masyarakat sunda dahulu menggunakan kalender Chandra Sunda sebagai patokan dalam pertanian serta perhitungan hari baik untuk menggelar acara besar seperti pernikahan. Kalender Candra Sunda memiliki keunikan dalam penanggalannya, yakni dalam satu bulan pada kalender Candra Sunda dibagi menjadi dua bagian, 15 hari untuk paro poek.
Namun mayoritas masyarakatnya sendiri tidak mengetahui kelebihan dan keunikan yang dimiliki dari kalender Sudna tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan Sunda, selain itu diperkirakan juga masyarakat sunda tidak lagi menggunakan kalender kebudayaan Sunda karena telah menggunakan kalender Masehi.
Namun sebagian kecil dari masyarakat Sunda (komunitas di Bandung) masih melestarikan kalender Sunda, salah satunya adalah lembaga Bengkel Kebudayaan serta beberapa komunitas kebudayaan lainnya seperti komunitas Lentera zaman. Komunitas-komunitas inilah yang berusaha mengenalkan kembali kepada masyarakat. Dari kalender Sunda yang telah dibuat oleh beberapa komunitas masih terlihat seperti kalender pada umumnya.
Melestarikan kalender Kebudayaan Kalender Sunda adalah Kalender yang dimiliki oleh suku sunda semenjak zaman dahulu, kalender ini kemudian ditemukan pada prasasti yang ada di Cirebon yang kemudian diteliti kembali oleh Ali Sastramidjaja dan diperkenalkan kembali oleh beliau pada 5 Desember 1987 pada seminar di Observatoarium Bosscha ITB di Lembang dengan topik “Kalangider” dan diperkenalkan kembali kepada publik pada tahun 2005.
Kalender Sunda dibagi menjadi tiga berdasarkan penanggalannya, diantaranya pertama penanggalan berdasarkan peredaran bulan yang disebut dengan Candra Kala Sunda. Kedua, penanggalan berdasarkan peredaran matahari yang disebut dengan Surya Kala Sunda. Dan ketiga, penanggalan berdasarkan pergerakan bintang yang disebut dengan Sukrakala.
Menurut Ali Sastramidjaja kalender tergolong menjadi dua yaitu kalender modern dan kalender tradisional. Kalender modern adalah kalender dengan penanggalan waktu yang menggunakan ukuran seragam untuk wilayah yang luas. Penanggalannya berbasis peredaran matahari (kalender surya) dan penanggalan waktu berbasis peredaran bulan (kalender candra).
Sementara itu, penanggalan waktu tradisional adalah penanggalan waktu yang disampaikan sebagai unsur agama, sosial dan budaya, kalender ini sering kali dikaitkan dengan gejala-gejala alam yang terjadi, disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya secara lisan dan hanya dipergunakan dalam wilayah lokal yang relatif sempit atau hanya dipergunakan oleh suatu bangsa atau suku bangsa tertentu.
Dari penjelasan mengenai kalender tradisional tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kalender kebudayaan termasuk juga ke dalam kalender tradisional. karena sesuai juga dengan pengertiannya bahwa kalender tradisional lahir berdasarkan beberapa unsur, salah satunya adalah undur kebudayaan.
Kalender Sunda termasuk ke dalam kalender kebudayaan yang lahir di tanah Sunda karena kalender ini perhitungannya berdasarkan peredaran matahari dan bulan, posisi rasi bintang di langit, serta gejala-gejala alam yang terjadi mislanya perilaku tumbuhan dan binatang pada tiap skala waktu tersebut, juga kalender Sunda menggunakan istilah-istilah yang sudah melekat dengan masyarakat sundanya sendiri.
Sejarah Kalender Sunda
Ali Sastramidjaja seorang peneliti kalender sunda telah mengkaji dan meneliti kalender sunda selama sembilan tahun. Ali Sastramidjaja mengatakan bahwa kalender sunda pertama kali ditemukan di sebuah batu prasasti yang bernama Sri Jayabupati pada tahun 952 Caka (Sunda), dalam batu tulis Sri Jayabupati tersebut tertulis “//0//Swasti Cakrawarssatita 952 karttikasama tithi dwadaci cuklapa Budhirancana II/10 109 ksa. ha. ra. wara tambir/ … dan seterusnya/” yang artinya “Selamat/ dalam tahun saka 952 Bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hari (ha)riyan-ka(ka)liwon-ra(dite) Ahad wuku tambir/ … dan seterusnya/”.
Pada tahun 1991 Masehi, kalender Sunda ini memperoleh Hak Cipta Dirjen Hak Cipta, Paten dan Merk Departemen Kehakiman RI, kemudian dipublikasikan melalui surat kabar, televisi, majalah dan internet pada tahun 1997 dan akhirnya pada tahun 2005 penerbitan pertama cetakan Kalender Candra Caka Sunda tahun 1941 Caka Sunda dan pada saat itu sambutan dari masyarakat sangatlah besar yang kemudian setiap tahunnya kalender sunda terus diterbitkan.
Berdasarkan data yag diperoleh dari komunitas Bengkel Budaya menjelaskan bahwa orang Sunda zaman dahulu mengukur perhitungan kalender Sunda menggunakan alat ukur yang terbuat dari batu ramping panjang, yang disebut lingga. Lingga adalah alat pengukur letak matahari yang ada sejak zaman purba yang berbentuk batu panjang yang sebagiannya ditanam dalam tanah secara kokoh dan letaknya tegak lurus mengarah langit yang biasanya diletakkan pada tempat yang dengan leluasa dapat disinari oleh sinar matahari.
Batu lingga ini digunakan untuk melihat, memeriksa, dan meneliti letak matahari dengan memperhatikan bayangan dari lingga tersebut, sebab orang zaman dahulu tahu, bahwa melihat matahari dengan mata telanjang dapat merusak mata.
Sementara itu, awal kalender Sunda ialah Kala Surya Sunda diawali pada tanggal 01 kasa 00001, jatuh pada hari respati (Kamis), pasar Pon (Sunda). Kala Candra Sunda, diawali pada tanggal 01 Suklapaksa Kartika 00001, jatuh pada hari Radite (Minggu), pasar manis (Sunda) dan bersamaan kala Surya Sunda pada tanggal 28 Hapitlemah 00108+.
Namun ketika India berkuasa di Asia Selatan, Sunda pun dikuasainya dan kalender pun dirubah yang pada awalmulanya pada tanggal 01-01-15317 kemudian menjadi 01-01-00001 Saka, bersamaan dengan 07 kresnapaksa srawan 15678 kala candra sunda tembey. Sama halnya dengan kala candra sundapun diubah yang pada mulanya01 suklapaksa kartika 15721 diganti dengan 01 suklapaksa kartika 00001 caka.
Kalender inilah yang terdapat dalam tulisan kuno (lontar,batu,daluwang dll) hingga muncullah kalender mataram yang menggantikan kala sunda. Menurut Ali Sastramidjaja bila perhitungan penanggalan kalender Sunda ini diteliti lebih lanjut, maka ternyata ketepatannya berlaku untuk masa yang cukup lama, ialah 80.000 yang kemudian diteliti bahwa tahun 80.000 jatuh pada tahun pendek.
Nama Hari pada Kalender Sunda
Menurut Ali Sastramidjaja, awal mula orang mengenal siang dan malam menunjukkan ada dan tidak adanya sinar matahari. Hari dimulai pada saat matahari terbit (jam 06.00 WIB). Kemudian penutup hari pada sore hari (18.00 WIB).
Hari yang dikenal di sunda ada 10 wara atau 10 periode, diantaranya: Nama hari Pengertian Ekawara setiap hari, nama harinya luang atau luwang Dwiwara Dua Harian atau selang sehari. Nama harinya ialah mango dan pepet.
Triwara tiga harian nama harinya Dora, May, jantara. Caturwara Periode 4 harian. Nama harinya: Sri, Laba, Jaya, Mandala, Pancawara Peride lima harian. Nama harinya: Manis, pahing, Pon, Wage, Kaliwon,. Sadwara periode enam harian, nama harinya: Tungle, Aryang, Wurukung, Paningron, Uwas, Mawulu. Saptawara Periode tujuh harian, nama harinya: Radite, Soma, Anggara, Buda, Respati, Sukra, Tumpek, Astawara, atau disebut padewaan atau dewa hari, periodenya delapan hari. Nama harinya: Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra atau Ludra, Brahma, Kala, Uma.
Sangawara atau Padangon, periode sembilan hari. Nama hariannya dangu, jagur, gigis, kerangan, nohan, wogan, tulus, wurung, dadi. Dasawara periode spuluh harian. Nama harinya: Pamdita, Padih, Suka, Duka, Sri, Manu, Manusya. raja dewa raksasa atau jaksa.
Wara yang digunakan dalam kalender sunda hanyalah Pancawara dan Saptawara, namun pada umumnya hanya menggunakan Saptawara. Hari-hari pasaran (pancawara) dalam kalender sunda berselisih dua hari dengan kalender jawa, misalnya manis (Legi) dalam kalender Jawa menjadi Pon dalam kalender Sunda.
Nama hari pada Pancawara adalah Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon. Nama hari pada Saptawara adalah: Radite (Ra= Matahari, dite = hari) adalah hari minggu. Soma (Bulan atau Candra) adalah hari Senin. Anggara (Planet mars) adalah Hari Selasa. Buda (Planet Merkurius) adalah hari Rabu. respati (Planet Yupiter) adalah hari Kamis. Sukra (planet Venus) adalah hari Jumat. Tumpek (Planet Saturnus) adalah hari Sabtu.
Selain itu nama Minggu pada kalender Sunda, Pancawuku yaitu gabungan dari pancawara (5 pasaran) dan Saptawara (hari dalam satu minggu) jadi pancawuku terdiri dari 35 hari. Dari gabungan ini maka muncul naptu tahun, naptu bulan, naptu hari, dan naptu pasar yang diperhitungkan dalam perhitungan paririmbon.
Wuku adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu week yang artinya adalah satu Minggu. Wuku ini dihitung mulai dari hari Minggu wage, semua wuku berjumlah 30 minggu. Sementara itu, Nama bulan pada kalender sunda juga berbeda dengan bulan yang ada pada kalender Jawa. Diantaranya adalah sebagai berikut: Kartika sama dengan Januari, Margasira-Februari, Posya-Maret, Maga-April, Palguna-Mei, Setra-Juni, Wesaka-Juli, Yesta-Agustus, Asada-September, Srawana-Oktober, Badra-November, Asuji-Desember.
Posmo
Punya masalah hidup yang tak kunjung selesai? Temukan solusinya bersama Spiritualis Kondang Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma – Sobat Mistis Trans 7)
PRAKTEK DI 3 KOTA
Jakarta
Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan
Gedung Graha Krama Yudha
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB
Bandung (Pusat)
Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jl. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Banten
Jl. Ki Mudakkir, Link. Cigading, Cilegon – Banten.
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Tlp/ Hp. 081296609372 (WhatssApp dan Telegram) dan 081910095431 (WhatsApp)
Tags: Bandung, Cimahi, Cirebon, Dalam, dennycagur, eksistensi, Gaib, Hikmah, ilmu, inti, Jati, jayabupati, kalender, kisukma, Konsultasi, mencuat, mendadar, mistis, orangpintar, padepokan, Pangeran, Placesetan, Prasasti, semesta, sobat, Spiritual, Sri, Sukma, Sunda, Supranatural, trans7
Diposting oleh Ki Sukma
Pangeran Sukma Jati Azmatkhan atau yang biasa dipanggil Ki Sukma adalah Pendiri sekaligus Guru Besar Padepokan Inti Semesta yang berlokasi di Bandung. Padepokan tersebut mengajarkan Ilmu Hikmah Spiritual dan Pencak Silat & Debus aliran Banten.
Mendadar Eksistensi Kalender Sunda Mencuat dalam Prasasti Sri Jayabupati di Cirebon
Prediksi Ekses Badai Dahsyat Hantam Daratan Amerika Wilayah Indonesia Bisa Terdampak Ekor Badai Badai besar seperti yang berturut-turut melanda beberapa... selengkapnya
Tidak seperti di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, makam orang-orang suci yaitu, para wali begitu terawat. Namun di Yaman yang... selengkapnya
Pisang, buah-buahan yang cukup banyak penggemarnya, selain rasanya yang enak pisang juga memiliki khasiat, bukan hanya isinya bahkan kulitnya pun... selengkapnya
Misteri Bumi Bengkah di Benua Afrika Bumi Bengkah! sebuah istilah untuk tanah yang pecah. Dikatakan bengkah karena lebarnya 20 meter... selengkapnya
Penemuan Ratusan Kepeng Logam Cina Kuno di Sidoarjo Diperkirakan Peninggalan Dinasti Ming dan Ching Warga Sidoarjo dihebohkan dengan penemuan ratusan... selengkapnya
Menurut tradisi esoteric India, tubuh eterik (psikis) manusia terdiri atas Cakra dan Nadi. Cakra merupakan gerbang energi eterik manusia yang... selengkapnya
Kisah Sunan Kalijogo Berdakwah di Cirebon Kutuk Santri yang tidak Shalat Jumat Jadi Kera Penyebaran Islam di Indonesia khususnya di... selengkapnya
Khasiat Kacang Kenari Meningkatkan Lapisan Sel bagi Penderita Diabetes Selain dapat menghaluskan kulit, kacang kenari juga bermanfaat untuk kesehatan karena... selengkapnya
Peristiwa naas yang menimpa Putu Nadiasa ini mengingatkan kejadian serupa yang menimpa I Komang Ngurah Trisna Para Merta, Anak baru... selengkapnya
Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah SAW mengatakan :”Bila telah sampai ajal seseorang, maka masuklah satu kelompok malaikat ke dalam lubang-lubang kecil... selengkapnya
Jasa Tarot Reading (Prediksi Tarot) Tarot adalah media berbentuk kartu yang digunakan untuk memprediksi/ membaca situasi/ kemungkinan suatu hal dalam… selengkapnya
Rp 750.000Khusus untuk anda yang sering disakiti, sering tertolak cinta dan sulit mendapat pasangan. ini ada sarana ilmu pelet tingkat tinggi…. selengkapnya
Rp 3.000.000Bagi Anda yang Ingin mengetahui, menekuni dan mengeksplorasi Dunia Lain, Alam Astral dan Keajaiban Dunia Bawah Sadar. Ikuti Gemblengan Ilmu… selengkapnya
Rp 3.000.000Private Kundalini Reiki Master Integrated Kundalini adalah suatu potensi energi dahsyat yang terdapat dalam diri setiap manusia. kata kundalini berasal… selengkapnya
Rp 3.000.000Mustika Gelang Harimau adalah mustika hasil riyadhoh ilmu hikmah tingkat tinggi. Secara alami memiliki energi ghaib yang kuat, ditambah dengan… selengkapnya
Rp 4.000.000Kristal untuk Penyembuhan dan Pemancar Kharisma Melalui program energi dan teknik meditasi Shamballa, Kristal ini diprogram untuk memancarkan energi penyembuhan… selengkapnya
Rp 1.000.000Mustika Bulan Purnama hasil tarikan alami melalui meditasi tingkat tinggi saat bulan purnama. Mustika ini berenergi, berkhodam dan memancarkan aura… selengkapnya
Rp 1.500.000Ilmu Penutup Pengunci Qolbu adalah Ilmu untuk Menutup, Mengunci Qolbu/ Hati seseorang agar tetap pada komitmennya, agar setia mencintai Anda,… selengkapnya
Rp 2.500.000Semar Kuning merupakan Ilmu Pelet dan Pengasihan Tingat Tinggi Kuno dan Hampir Punah. Dikenal sejak dahulu kala, di dalam mitologi… selengkapnya
Rp 2.500.000Mustika kepompong wesi kuning adalah mustika yang termasuk dari jenis Pusaka Wesi Kuning yang tersohor di Nusantara. Wesi Kuning sendiri… selengkapnya
Rp 2.000.000








Saat ini belum tersedia komentar.