Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Ki Sukma
● online
Ki Sukma
● online
Halo, perkenalkan saya Ki Sukma
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Padepokan Inti Semesta Jasa Spiritual Terbaik & Terpercaya

Beranda » Blog » Dari Jumenengan ke-13 SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta, Sinuhun Menangis dengar Gendhing Bedaya Ketawang

Dari Jumenengan ke-13 SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta, Sinuhun Menangis dengar Gendhing Bedaya Ketawang

Diposting pada 27 April 2022 oleh Ki Sukma / Dilihat: 141 kali / Kategori:

Sabtu (22/4) merupakan hari istimewa bagi keraton Kasunanan Surakarta. Meski keraton yang merupakan penerus dari dinasti Mataram Islam ini ditimpa kemelut, tetapi hal ini tidak membuat pelaksanaan jumenengan atau peringatan naik tahta raja yang saat ini berkuasa terganggu. Dengan pengawalan ketat ratusan anggota kepolisian, acara sakral yang hanya digelar satu kali dalam satu tahun ini tetap berlangsung. Bagaimana prosesinya?
Jumenengan merupakan peringatan kenaikan tahta seorang raja yang berkuasa di sebuah kerajaan. Dalam pelaksanaannya jumenengan ini menggunakan sistem penanggalan Jawa. Di Keraton Kasunanan Surakarta peringatan kenaikan tahta seorang raja dilakukan setiap tanggal Jawa 25 Rejeb. Hal ini dikarenakan Sinuhun Paku Buwana XIII, raja yang saat ini berkuasa diKeraton Kasunanan Surakarta dinobatkan sebagai penerus dari Sinuhun Paku Buwana XII, ayahnya pada 25 Rejeb empat tahun yang lalu.
Peringatan naik tahtanya Sinuhun Paku Buwana XIII yang kembali dilangsungkan pada Sabtu (22/4) terbilang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab pada peringatan kali ini jumenengan dilangsungkan di tempat yang berbeda dengan jumenengan empat tahun yang lalu. Jika empat tahun yang lalu jumenengan selalu dilangsungkan di Sasana narendra, tempat tinggal raja. Kali ini jumenengan dilangsungkan di Sasana Sewaka, tempat jumenengan harusnya dilangsungkan. Secara keseluruhan jumenengan berlangsung lancar dan khidmat. ratusan orang berpakaian khas Jawa gagrag Solo dengan berhiaskan samir berwarna kuning semenjak pagi memasuki Kamandoengan untuk selanjutnya bergegas menuju Sasana Sewaka. Terhitung ratusan orang yang terdiri dari abdi dalem, keluarga keraton dan pejabat negara mengikuti gelaran jumenengan Sinuhun Pakubuwana XIII yang ke-13. Pada prosesi tersebut nampak pula petinggi Lembaga Dewan Adat yang selama ini terlibat perseteruan dengan Sinuhun Paku Buwana XIII.
Beberapa diantaranya adalah GKRay Koes Indriyah, GKRay Isbandiyah serta GKR Galuh Kencana. Selain itu, hadir pula KGPH Puger yang pernah diangkat oleh Lembaga Dewan Adat sebagai pelaksana tugas raja. Juru bicara panitia Tingalan Jumenengan. KP Bambang Pradoponagoro menyebut kedatangan petinggi Lembaga Dewan Adat tersebut merupakan sinyal positif untuk kedamaian dalam keraton. “Proses rekonsiliasi di dalam keraton semakin menunjukkan perkembangan positif” katanya. Selama tiga tahun terakhir, masing-masing kubu di keraton menggelar upacara Tingalan Jumenengan. Kubu Paku Buwana menggelar acara itu di kediamannya. Sedangkan kubu Lembaga Dewan Adat menggelar acara serupa di dalam keraton.
“Sedangkan saat ini upacara bisa menjadi satu,” kata Bambang. Dia berharap, upacara serupa juga bisa terlaksana dengan baik di masa-masa mendatang. Sementara itu KGPH Puger mengelak bahwa dia merupakan bagian dari Lembaga Dewan Adat, “Jangan salah persepsi, saya bukan anggota lembaga tersebut,” katanya.
Menurutnya, dia hadir dalam acara itu sebagai keluarga inti kelurga keraton. “Meski banyak juga yang tidak hadir,” katanya. Ketidakhadiran beberapa keluarga inti itu menurutnya bukan lantaran dampak konflik dalam keraton. “Hari ini susah cari tiket pesawat,” katanya. KGPH Puger berharap kegiatan Tingalan Jumenengan itu menjadi pintu masuk perdamaian para kerabat keluarga keraton. “Setelah ini akan ada penataankeraton,” katanya. Dia mengaku ikut dilibatkan dalam proses penataan pascakonflik itu. Demi menjaga keamanan berlangsungnya jumenengan, pihak kepolisian melakukan pemeriksaan menditail terhadap ratusan tamu yang hadir. bahkan, saat itu tamu diharuskan melewati metal detektor untuk memeriksa barang bawaannya. Selain para abdi dalem, senatana, dan pejabat keraton, pada saat itu nampak pula tokoh-tokoh penting seperti menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah dan Ibunda Presiden Joko Widodo, Sudjiatmi Notomiharjo.
Jumenengan Sinuhun paku Buwana XIII yang ke-13 ini terasa semakin berbeda dengan tahun yang lalu. Sebab di Jumenengan yang ke-13 ini, Sinuhun Paku Buwana XIII kembali bisa menyaksikan tarian bedaya ketawang yang merupakan tarian sakral milik keraton kasunanan Surakarta. Menurut mitos, dalam setiap gelaran tarian ini Kanjeng Ratu Laut Selatan tururt hadir juntuk menyaksikan prosesi jumenengan. Jika dihitung sudah empat tahun Sinuhun Paku Buwana tidak menyaksikan tarian sakral ini. Hal ini terjadi karena selama empat tahun berturut-turut akibat adanya perseteruan jumenengan dilakukan di dua tempat berbeda. Dan karena tarian ini hanya ditarikan di Sasana Sewaka membuat Sinuhun Paku Buwana XIII tidak dapat menyaksikannya karena Sinuhun menggelar jumenengan sendiri di Sasana Narendra, kediamannya. Ada rasa haru yang tidak terkira dirasakan oleh Sinuhun Paku Buwana XIII saat kembali menyaksikan tarian sakral ini. Terlihat saat tarian sakral ini dibawakan oleh penari wanita sejumlah sembilan orang yang masih perawan ini, Sinuhun Paku BUwana XIII nampak berulang kali menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Tentang keharusan yang dirasakan oleh Sinuhun disampaikan oleh keponakan raja Keraton Solo, KPH Suryokumolo, saat ditemui wartawan usai acara. “Saya lihat, Sinuhun (PB XIII) menangis saat gending (gamelan) pertama (tari) Bedhaya Ketawang dibunyikan,” ujarnya.
Beberapa kali, memang terlihat PB XIII mengusap air mata dengan tisu. Diungkapkan Suryo, tisu tersebut adalah pemberian KGPHPA Tedjowulan yang juga turut menyaksikan PB XIII menangis haru. “Beberapa kali Gusti Tedjo (Tedjowulan) memberi tisu saat melihat Sinuhun menangis,” katanya. Suryo mengatakan, ekspresi menangisnya PB XIII dikarenakan merasa terharu setelah empat tahun tidak merasakan momen seperti yang terjadi hari ini. Pasalnya, sejak 2013, jumenengan diadakan terpisah di dua tempat. Yakni jumenengan PB XIII di kediaman Sasana Narendra tanpa Bedhaya Ketawang di Sasana Sewaka tanpa sang raja. “Yang dirasakan Sinuhun seperti kehilangan sesuatu dan mendapatkan lagi setelah sekian lama tak merasakan,” ucap dia menambahkan. Adapun, Humas Jumenengan, KP Bambang Ari Pradotonagoro, mengatakan hal sama, Jumenengan ke-13 PB XIII pada Sabtu ini dianggap memiliki sejarah tersendiri karena diadakan lengkap dengan Bedhaya Ketawang. Bambang juga mengakui jika dalam jumenengan kali ini, PB XIII merasa terharu dan senang berlangsungnya karena bisa menyaksikan kembali dan melaksanakan jumenengan secara utuh dan lengkap dengan tarian sakral. “Sinuhun (PB XIII) terharu tadi saat lengah (duduk) di Dampar Kencana (singgasana),” ungkapnya.
Terlihat beberapa kali PB XIII memang sering mengusap mata saat Bedhaya Ketawang ditarikan oleh sembilan penari di hadapannya. Dikatakan Bambang, momen ini adalah sejarah dan diharapkan membawa kabar baik berlangsungnya Keraton Solo di masa yang akan datang. Meski demikian tarian sakral yang dibawakan oleh sembilan penari ini lebih cepat. Biasanya tarian dimainkan selama 90 menit. Namun kali ini tarian Bedhaya Ketawang tersebut hanya dilangsungkan selama 30 menit. Pemendekan durasi tarian ini dikarenakan mempertimbangkan kondisi Sinuhun. Tarian sakral yang diiringi dengan Gendhing Ketawang Gede itu dimulai sekitar pukul 11.06 WIB. Saat tarian itu digelar Sinuhun Paku Buwana XIII Hangabehi, nampak duduk di singgasana bernama Dampar Kencana. Pertunjukan tarian tersebut berlangsung sekitar setengah jam, selesai pukul 11.36 WIB, menurut Humas Jumenengan, KP Bambang Ari Pradotonagoro, panitia memutuskan durasi tarian hanya 30 menit. “Yang namanya Bedhaya Ketawang ada tiga bagian, perbagian 30 menit, estimasi menari 1.5 jam. Keputusan agar tari hanya 30 menit untuk menjaga kondisi beliau (PB XIII).
KP Bambang Ari Pradotonagoro menampik jika saat jumenengan berlangsung kondisi Sinuhun sedang tidak dalam keadaan tidak sehat. Menurutnya, pemendekan durasi itu dilakukan karena ada kemungkinan Sinuhun kecapekan karena padatnya ritual menjelang jumenengan. “Bukannya sakit, tapi selama tiga hari padat melakukan ritual jumenengan,” tambah Bambang. Adapun sebelumnya, selama bertahun-tahun, tari Bedhaya Ketawang selalu dibawakan selama sekitar dua jam. “Semua tergantung dawuh (Perintah) Sinuhun”tambahnya lagi.

Posmo

Punya masalah hidup yang tak kunjung selesai? Temukan solusinya bersama Spiritualis Kondang Pangeran Sukma Jati (Ki Sukma – Sobat Mistis Trans 7)
PRAKTEK DI 3 KOTA

Jakarta
Jl. Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan
Gedung Graha Krama Yudha
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB

Bandung (Pusat)
Perumahan Maharani Village Blok D.10 Jl. Cigugur Girang Kp. Sukamaju Rt/Rw 05/05 Desa Cigugur Girang Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat. Jam praktek: Pk. 09.00 s.d 17.00 WIB
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.

Banten
Jl. Ki Mudakkir, Link. Cigading, Cilegon – Banten.
Untuk pendaftaran silahkan buat appointment (janji) via nomor Hp di bawah ini.
Tlp/ Hp. 081296609372 (WhatssApp dan Telegram) dan 081910095431 (WhatsApp)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bagikan ke

Diposting oleh

Pangeran Sukma Jati Azmatkhan atau yang biasa dipanggil Ki Sukma adalah Pendiri sekaligus Guru Besar Padepokan Inti Semesta yang berlokasi di Bandung. Padepokan tersebut mengajarkan Ilmu Hikmah Spiritual dan Pencak Silat & Debus aliran Banten.

Dari Jumenengan ke-13 SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta, Sinuhun Menangis dengar Gendhing Bedaya Ketawang

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Dari Jumenengan ke-13 SISKS PB XII di Keraton Kasunanan Surakarta, Sinuhun Menangis dengar Gendhing Bedaya Ketawang

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: